Berbagi informasi tentang otomotif, seperti perawatan berkala kendaraan, cara mengendarai kendaraan yang benar, modifikasi, auto show nasional & International dan teknologi mobil serta informasi yang terkait.
Selamat Datang di Blog ini.
“Jika segala sesuatu tidak berjalan baik untuk Anda, mulai berupaya mengoreksi situasi dengan cermat, memeriksa servis yang Anda berikan dan terutama semangat Anda dalam memberikan servis itu”.
(Roger Babson)
16 Oktober 2010
Daya tarik Audi Q5
Audi A5 berhasil menarik konsumen baru yang belum pernah memiliki Audi sebelumnya. Dari 30 unit yang dipesan, 20 unit diantaranya dipesan konsumen baru, bukan konsumen Audi yang ada sekarang. “Nama-namanya baru dan belum kami kenal sebelumnya,” kata Imelda Muhidi, GM PT Garuda Mataram Motor, Jumat (7/8). Menurutnya, ini menandakan brand Audi sudah semakin terekam di benak konsumen. Sepanjang IIMS 2009 lalu, Audi Q5 terjual 7 unit, hampir dua kali lipat dari volume model Audi lainnya Audi A4 yang terjual 4 unit. Total penjualan Audi di pameran itu sebanyak 13 unit, lebih banyak dari tahun lalu yang tercatat 10 unit. Sejak Februari, PT GMM sudah bergerilya menawarkan Audi Q5, hasilnya 30 unit dipesan. Ditambah 7 unit di IIMS dan beberapa pesanan lainnya, total 40 unit. Persoalannya alokasi produksi Q5 yang disetujui untuk Indonesia baru 25 unit-12 unit sudah diserahkan ke konsumen. PT GMM saat ini berupaya meyakinkan Audi AG untuk menambah kuota Indonesia hingga 50 unit.“Karena produksinya juga terbatas, maka delivery time-nya juga agak lama 4–5 bulan,” kata Imelda lagi. Imelda yakin, konsumen tidak akan berpindah „kelain hati‟, karena konsumen Audi bukan kelompok yang akan terganggu mobilitasnya jika mobil pesanannya tak kunjung tiba. Bersama A4, GMM menjadikan Q5 sebagai volume makers. Total penjualan Audi di Indonesia hingga Juli mencapai 68 unit, diluar Q5. (www.mobilku.com)
02 Juni 2010
Pajak Naik Industri Otomotif Ngos-ngosan (Bagja Pratama - detikOto)
Jakarta - Belum juga selesai urusan larangan
penggunaan BBM bersubsidi, bahkan jauh sebelumnya, pemerintah sudah
berencana untuk menaikkan pajak kendaraan bermotor.
Mengetahui kondisi tersebut, tentunya membuat para pelaku industri otomotif nasional menjadi pesimis untuk bisa lebih bebas mengembangkan dirinya.
Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Internasional, GUnadi Shinduwinata bahkan mengatakan, semua kebijakan pemerintah terkait kenaikan pajak kendaraan dianggap
kontra-produktif.
"Kita pelaku industri jadi bingung, disatu sisi dituntut agar bisa bersaing di tengah-tengah free trade, tapi di sisi lain ditimpa dengan pajak yang tinggi," ujarnya ketika ditemui detikOto, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (1/6/2010).
Seharusnya, sebelum gerbang free trade dibuka, pemerintah mau memberikan kesempatan industri otomotif nasional berkembang dan mematangkan kompetensinya.
"Minimal, volume produksi bisa meningkat, jangan malah dibebankan dengan pajak tinggi," ujarnya.
Semua rencana kenaikan pajak tersebut, pasti akan berpengaruh terhadap harga jual akhir kepada konsumen. Meeskipun bisa saja ongkos produksi tidak naik, tapi
karena pajak, harga jual melonjak.
"Karena kan kita yang ditugaskan menarik pajak langsung dari konsumen melalui harga jual kendaraan," papar Gunadi.
Dengan naiknya harga jual, otomatis daya beli masyarakat berkurang, dan akan lebih memilih kendaraan luar negeri yang harganya lebih terjangkau, sehingga
ujung-ujungnya industri otomotif nasional menjadi terseok-seok.
( bgj / ddn )
Mengetahui kondisi tersebut, tentunya membuat para pelaku industri otomotif nasional menjadi pesimis untuk bisa lebih bebas mengembangkan dirinya.
Presiden Direktur PT Indomobil Sukses Internasional, GUnadi Shinduwinata bahkan mengatakan, semua kebijakan pemerintah terkait kenaikan pajak kendaraan dianggap
kontra-produktif.
"Kita pelaku industri jadi bingung, disatu sisi dituntut agar bisa bersaing di tengah-tengah free trade, tapi di sisi lain ditimpa dengan pajak yang tinggi," ujarnya ketika ditemui detikOto, di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (1/6/2010).
Seharusnya, sebelum gerbang free trade dibuka, pemerintah mau memberikan kesempatan industri otomotif nasional berkembang dan mematangkan kompetensinya.
"Minimal, volume produksi bisa meningkat, jangan malah dibebankan dengan pajak tinggi," ujarnya.
Semua rencana kenaikan pajak tersebut, pasti akan berpengaruh terhadap harga jual akhir kepada konsumen. Meeskipun bisa saja ongkos produksi tidak naik, tapi
karena pajak, harga jual melonjak.
"Karena kan kita yang ditugaskan menarik pajak langsung dari konsumen melalui harga jual kendaraan," papar Gunadi.
Dengan naiknya harga jual, otomatis daya beli masyarakat berkurang, dan akan lebih memilih kendaraan luar negeri yang harganya lebih terjangkau, sehingga
ujung-ujungnya industri otomotif nasional menjadi terseok-seok.
( bgj / ddn )
Langganan:
Postingan (Atom)